Ketika Jalan Menjadi Panggung: Membaca Ulang Gesekan Mahasiswa dan Pengemudi Daring sebagai Cermin Ruang Publik Kita
Gesekan antara mahasiswa dan pengemudi ojek daring bukan sekadar bentrok jalanan. Mari telusuri akar sosiologis dan langkah pencegahan bersama.

Membaca Ulang Retak Ruang Publik dari Kacamata Komunitas
Salam hangat untuk kita semua, para pembaca yang peduli pada denyut kota dan kehidupan warganya. Hari ini saya ingin mengajak Anda duduk sejenak, menaruh sepotong empati, dan bersama-sama membaca fenomena yang kerap menghiasi layar ponsel kita: gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa di ruang-ruang publik perkotaan. Kabar seperti ini sering membuat kita terbelah—ada yang membela satu pihak, ada yang menyalahkan pihak lain. Padahal, sebagai sebuah komunitas, kita bisa memilih untuk melihat lebih dalam, bukan sekadar menonton keributan di permukaan.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda menelusuri lapisan-lapisan makna di balik insiden tersebut, tentu dengan berpijak pada pembacaan yang sudah ada, termasuk Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus. Mari kita jelajahi bersama, dengan nada optimistis bahwa setiap retakan selalu menyisakan ruang untuk perbaikan.
Daftar Isi
- Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
- Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
- Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
- Langkah Konkret Menuju Ruang Publik yang Lebih Ramah
- Menutup dengan Harapan dan Ajakan Bersama
Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama
Bayangkan sebuah ruas jalan arteri yang sempit, di mana dua kelompok dengan agenda mendesak harus melewatinya pada waktu yang hampir bersamaan. Di satu sisi, ada mahasiswa yang turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi. Bagi mereka, badan jalan adalah panggung artikulasi politik—tempat di mana suara mereka bisa didengar publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur pun menjadi instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Ini bukan sekadar soal lalu lintas; ini soal eksistensi dan pengakuan.
Di sisi lain, ada para pengemudi ojek daring yang bekerja di bawah kendali algoritma. Mereka dituntut untuk mengejar ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Setiap hambatan di jalan bukan hanya soal terlambat beberapa menit, tetapi langsung memotong pendapatan riil dan berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi. Bagi mereka, jalan adalah sumber nafkah, bukan sekadar jalur mobilitas.
Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil bisa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok. Inilah titik di mana ruang publik yang seharusnya menjadi milik bersama justru berubah menjadi medan pertempuran.
Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
Salah satu ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri—untuk berbagi rute atau informasi darurat—dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Inilah yang oleh Émile Durkheim disebut sebagai solidaritas mekanis: ketika kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban.
Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial semakin mempercepat proses ini. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat. Dalam ruang digital yang serba cepat, solidaritas bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi memperkuat ikatan komunitas, di sisi lain memperbesar risiko konflik horizontal.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa teknologi tidak hanya menghubungkan, tetapi juga mempercepat reaksi. Sebagai komunitas, kita perlu bijak dalam menyikapi setiap informasi yang masuk, terutama yang berpotensi memicu emosi kolektif.
Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya adalah warga negara yang sedang berjuang dengan cara masing-masing.
Jika kita mau jujur, akar dari gesekan ini bukanlah kebencian personal, melainkan sistem yang belum mampu mengakomodasi berbagai kepentingan di ruang yang terbatas. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan mulai mencari solusi bersama.
Langkah Konkret Menuju Ruang Publik yang Lebih Ramah
Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret dari kita semua. Berikut beberapa di antaranya:
- Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan.
- Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak.
- Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas.
Langkah-langkah ini bukanlah hal yang mustahil. Dengan niat baik dan komunikasi yang terbuka, kita bisa membangun ruang publik yang lebih inklusif dan aman bagi semua.
Menutup dengan Harapan dan Ajakan Bersama
Sahabat komunitas, apa yang terjadi di jalanan bukanlah cerminan akhir dari peradaban kita. Justru, dari retakan-retakan inilah kita bisa belajar untuk lebih saling memahami. Mari kita rawat empati, jaga komunikasi, dan bangun jembatan antar kelompok. Setiap dari kita punya peran: mahasiswa, pengemudi daring, aparat, dan masyarakat umum.
Jika Anda memiliki pengalaman atau gagasan tentang bagaimana memperkuat ruang publik kita, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar atau forum komunitas. Mari kita jadikan diskusi ini sebagai langkah awal menuju kota yang lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, ruang publik adalah cermin dari siapa kita sebagai masyarakat.
"Kota yang baik adalah kota yang mampu merangkul semua warganya, bukan hanya yang paling kuat atau paling cepat."
Terima kasih sudah membaca dan menjadi bagian dari percakapan ini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, dan tetap jaga semangat untuk membangun komunitas yang lebih hangat!
Sumber / Referensi
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.
https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampusCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Optimal Humans.





